Wednesday, October 9, 2019

Merah

Untuk kali ke dua di tahun ini, portfolio tabungan 90% lebih berwarna merah. Yang mengagetkan adalah setelah sempat selama satu minggu floating antar 8% hingga 10%, di minggu berikutnya langsung longsor terus hingga kini berada di kisaran 1% YTD.

Luar biasa sekali.

Pun demikian, saya pernah mengalami hal yang lebih buruk di tahun ini juga. Ketika itu harus berjibaku karena portofolio floating di kisaran -5%.

Ketika itu saya ingat benar telah melakukan tindakan konyol dengan tergesa-gesa melakukan aksi pindah kapal. Padahal ketika itu tidak ada hal signifikan yang terjadi kecuali berita yang berisi cuitan akun Twitter Presiden Trump soal kampanye perang dagangnya dengan China.

Meski portfolio kemudian bisa floating positif, namun saya melewatkan banyak sekali potensi profit yang lebih besar.

Andai kata ketika itu tidak tergesa-gesa melakukan aksi pindah kapal, mungkin akan sempat merasakan floating di kisaran 15%!

Dari pengalaman itu, kali ini saya putuskan untuk bersikap pasif terhadap portfolio tabungan (dalam artian hanya melakukan average down jika ada yang floating -30%) dan hanya aktif melakukan transaksi di akun khusus yang saya fokuskan untuk mendalami trading selama tahun 2019 ini.

Haduuu...h, serius sekali sayah. 🤣🤣🤣

Sunday, August 25, 2019

Average Down?

Beberapa minggu ini performa portfolio utama turun-naik mengikuti pergerakan IHSG. Meski begitu, puji syukur secara keseluruhan masih floating positif; dan karena floating positif inilah penyakit malas saya kambuh, yaitu malas mencari tahu performa tiap emiten di portfolio.

Alhasil, rupanya tanpa disadari ada tiga emiten yang sudah waktunya untuk average down. Bahkan satu di antara emiten tersebut, sudah naik (sedikit) sebelum saya sempat melakukan average down. Asem tenan.

Tapi aneh juga, performa portfolio yang cenderung sideways, ternyata di dalamnya ada yang sudah longsor cukup dalam; dan ada yang naiknya cukup signifikan. Ini sungguh emejing; sebuah keajaiban diversifikasi.

Tanpa ba-bi-bu, prosedur average down saya lakukan.

Hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa kondisi rasio-rasio keuangan si emiten (lewat RTI.co.id). Apakah masih layak dan sesuai dengan screening awal. Jika "ya", maka lanjut ke mencari-cari tahu isu apa yang sedang menerpa si emiten, dan ini yang menyenangkan. Hehehe.

Cara termudah untuk mencari isu-isu terkait terhadap suatu emiten adalah dengan melakukan pencarian diskusi-diskusi yang ada di Stockbit.com. Di sana, biasanya sudah ada user Stockbit yang berbaik hati membagikan isu-isu terbaru. Mulai dari sumber berita resmi, semisal kliping koran versi dijital (pdf), kabar dari situs-situs website berita nasional, atau kabar burung yang beredar di kalangan investor dan trader saham.

Karena isu yang beredar menurut saya masih dalam batas wajar, ya sudah, HAJAR KANAN!

Lalu...

Setelah hajar kanan, saya baru ingat kalau belum memeriksa laporan keuangan tengah tahun emiten-emiten tadi secara langsung. Wkwkwk.

Ancen geblek tenan! 不不不不不

Saturday, June 22, 2019

Mengejar (Multi) Bagger?

Apa yang lebih membanggakan dari berinvestasi di dunia saham lalu mendapatkan bagger? Saya pernah merasakannya sekali (semoga ke depan akan berkali-kali, hehehe) dan itu sungguh menyenangkan. Bahkan di situ muncul satu kebanggaan meski emiten yang dibeli tersebut merupakan stock pick dari paman Kakdr & Johnfundamental.

Namun kemudian semakin ke sini, entah mengapa pengalaman yang terlalu cepat itu malahan menjadi beban. Menjadi beban karena bagger menjadi mindset utama dalam berinvestasi. Saya menjadi lupa bahwa niat awal berinvestasi, yaitu membangun mindset terlebih dahulu untuk menjaga nilai aset dari inflasi.

Dengan mindset menjaga nilai aset, maka hal pertama yang wajib dijaga adalah jangan sampai rugi.

Bagaimana caranya agar jangan sampai rugi?

Salah satunya adalah dengan menempuh jalan anti-cutloss! Dan untuk memudahkan jalan anti-cutloss, maka screening untuk menemukan emiten berkualitas atau minimal sehat, untuk menambah probabilitas harga naik ketimbang harga turun, menjadi sangat penting.

Kalaupun harga pada akhirnya turun, maka hal-hal yang harus disiapkan dan kemudian dilakukan untuk meminimalkan risk sudah ada dalam bentuk cheklist yang siap segera untuk dieksekusi dan itu bukan cutloss.


Tuesday, May 28, 2019

Daftar Blog Berkualitas tentang Manajemen Modal untuk Pemula di Dunia Saham

Proses tawar-menawar harga saham yang berlangsung hampir tiap hari dari Senin sampai dengan Jumat dari jam 08.45 sampai dengan 16.15 WIB, membuat siapapun yang baru masuk sedikit-banyak akan ada rasa ketakutan dan keserakahan.

Jika harga naik satu tick saja, rasanya sudah seperti seorang jawara, invincible. Tapi sebaliknya, jika harga turun satu tick rasa-rasanya diri ini menjadi yang terbodoh dari orang-orang bodoh yang pernah melegenda di sepanjang catatan sejarah manusia.

Wkwkwk, sebenarnya itu yang saya alami sih. Gak tahu kalau orang lain.

Tapi saya sangat percaya, ketika Sang Pencipta alam semesta memberikan suatu masalah, Dia pasti akan menyertakan solusinya. 

Hanya saja, kadang mencari solusi itu juga merupakan masalah yang lain. 

Tapi tenang, saya sudah tidak tahu harus berbasa-basi bagaimana lagi. Jadi, berikut daftar blog terbaik bagi pemula di dunia saham.

Yes. Ncek Glodok satu ini, tidak pernah bosan untuk membagi ilmunya mengenai manajemen modal di dunia saham. Metode yang dia gunakan sangat sederhana, tapi membutuhkan tingkat kesabaran ekstra.

Jadi, ketika dia akan mengeksekusi suatu saham...

Ah sudahlah. Langsung saja datangi blognya. Baca dari publikasi awal mengenai dasar-dasar Kakdrway. Dari situ kita akan paham, bahwa pergerakan harga saham yang naik dan turun itu hal yang wajar. 

Dan satu-satunya ketidak wajaran adalah jika kita menjual saham dalam kondisi rugi, sedangkan di riilnya, perusahaan yang menerbitkan saham tadi masih beroperasi sebagaimana biasanya.

Blog berikutnya adalah,

Yes. Masih sama, Ncek Glodok lagi. Karena manajemen resiko adalah yang nomor satu terlepas apapun aliran investasi yang digunakan. Baca, baca, dan bacalah.

Berikutnya? 

Yakin masih pengen tahu yang berikutnya? 

Serius? 中

Yes, anda benar. Blog berikutnya mengenai manajemen modal adalah,

Manajemen modal terbaik yang pernah saya baca. Mulai dari strategi pembagian modal untuk entry, kapan entryaverage down, taking profit, buyback, dan switching emiten.


Thursday, May 16, 2019

Ketika Prinsip Investasi Dikhianati

Sejak awal, prinsip investasi saya adalah mencari perusahaan sehat dan salah harga. Sehat di sini dalam artian perusahaan ini terus bertumbuh minimal lima tahun terakhir. Sedangkan salah harga adalah dalam artian harga di pasar sekarang tidak mencerminkan valuasinya saat ini berdasarkan laporan keuangan terakhir.

Prinsip inilah yang saya khianati di akhir bulan April 2019.

Ketika membaca berita-berita positif mengenai perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China sejak tahun 2018, saya berpikir bahwa akan sangat sulit mencari lagi perusahaan-perusahaan sehat dan salah harga sebagaimana definisi di paragraf awal.

Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk mengabaikan prinsip tersebut dan hanya melihat peluang growth yang sekiranya bisa memberikan risk-reward memadai.

Hasilnya? Boom!

Perundingan antara salah dua pemimpin ekonomi dunia, presiden Trump dan Xi Jinping, gagal total! Bahkan mereka sekarang kembali saling berbalas untuk menaikkan tarif impor.

Belum reda juga, kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi kembali menghantui ketika pengumuman trade balance Indonesia mengalami defisit lebar.

Setelah habis jatuh tertimpa tangga, kini makin diperparah dengan kejatuhan genteng. Yaitu dua hal di atas, mengenai perang dagang dan defisit neraca perdagangan, terjadi di bulan-bulan di mana banyak emiten yang usai cumdate dividend yang biasanya disusul dengan harga longsor akibat aksi taking profit para pemburu sentimen dividen.

Harusnya di saat seperti ini adalah saat yang sangat tepat mulai mengawasi dan bersiap menginisiasi saham-saham yang memiliki fundamental baik dan salah harga. Namun karena ketidak patuhan mengikuti prinsip investasi, sekarang saya hanya bisa ngiler, sengiler-ngilernya, karena kas sudah menipis.

Btw, saya mulai aktif di dunia saham sejak Desember 2018. Jadi sepertinya peluang yang tercipta sebagaimana di awal tahun 2018 kemarin, ketika akan datang kembali di kuartal dua tahun 2019 (tapi semoga saja cepat balik bullish, hehehe...), kesempatan itu harus saya lewatkan.

Rejeki itu rumit kalau kitanya ndak sabar.


Friday, May 3, 2019

Ratio-ratio di RTI Mobile (bagian 4)

Mungkin pengambilan contoh hasil tangkapan layar ponsel saya sudah tidak relevan lagi. Karena data dari RTI akan terus diperbarui setiap saat. Terutama data yang terkait langsung dengan harga saham INKP sekarang.

Harga perlembar saham INKP hasil tangkapan layar pada 8 April 2018, jam 10.02 WIB.


Sebagai contoh adalah PER (Price Earning Ratio) dimana rasio ini didapatkan dengan cara membagi harga perlembar saham INKP sekarang dengan EPS tercatat terakhir. Harga saham berfluktuasi setiap hari, sedangkan perubahan EPS terjadi minimal tiap kuartal (tiga bulan sekali).

Tapi ya sudahlah, lanjut.

Kali ini mengenai bagian Valuation.

Data valuasi INKP di RTI mobile ketika penulis memulai membuat tulisan berseri mengenai rasio-rasio RTI versi mobile.

Deviden Yield

Deviden yield adalah rasio antara jumlah deviden terakhir dibagi dengan harga perlembar saham INKP pada saat ini. Kebetulan harga saham INKP perlembarnya ketika saya mulai menulis adalah Rp 8.225. Sedangkan deviden terakhir adalah Rp 100 perlembar saham (ada di tulisan bagian 3).

Deviden yield 
= ( Rp 100 / Rp 8.225 ) * 100%
= 1,22%

Price Earning Ratio (PER)*

Price earning ratio adalah seandainya kita membeli perlembar saham INKP seharga Rp 8.225 lalu seluruh earning atau laba INKP dibagikan kepada seluruh pemegang saham, maka akan dibutuhkan 5,39 tahun agar si pemegang saham balik modal. Tentunya ini dengan asumsi bahwa laba INKP selalu konstan setiap tahunnya.

Angka PER di RTI adalah angka PER yang disetahunkan. Artinya jika laporan keuangan terakhir yang tercatat di RTI adalah laporan keuangan kuartal ke empat, berarti PER ini didasarkan angka EPS (earning pershare, lihat pada tulisan bagian 3) di penutupan tahun terakhir.

Namun jika EPS yang terlapor masih kuartal satu, dua, atau tiga, maka angka PER-nya adalah angka estimasi setahun mendatang.

PER didapatkan dengan cara membagi harga sekarang dibagi dengan EPS disetahunkan. Jika harga sekarang Rp 8,225 sedangkan EPS-nya adalah USD 0,1075 atau sekitar Rp 1.505 (asumsi USD 1 = Rp 14,000), maka:

PER
= Rp 8.225 / RP 1.505
= 5,46

Price Sales Ratio (PSR), Price Book Value Ratio (PBVR), dan Price Cash Flow Ratio (PCFR)

Yes, semua di atas saya gabungkan karena perhitungannya sama. Yaitu harga sekarang dibagi dengan, secara berurutan, sales pershare (revenue pershare atau RPS), book value pershare (BVPS), cashflow pershare (CFPS). Angka-angka ini bisa dicek di tulisan bagian 3.

Harga perlembar INKP ketika saya mulai menulis tulisan berseri ini adalah Rp 8.225. Silahkan hitung sendiri dengan asumsi 1 USD = Rp 14.000. Hehehe...

Tuesday, April 23, 2019

Rasio-rasio di RTI Mobile (bagian 3)

Melanjutkan tulisan dari catatan bagian 2 sebelumnya mengenai rasio-rasio di RTI versi mobile.

Tapi sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa pengambilan emiten INKP sebagai contoh di sini bukan karena emiten ini bagian dari portofolio. Melainkan kebetulan saja ketika ingin menulis mengenai rasio-rasio RTI versi mobile, saat itu saya sedang memeriksa laporan keuangan INKP kuartal 4 tahun 2018. INKP sendiri sampai sekarang masih tergolong bearish (kalau tidak salah sih).

Oke lanjut, berikutnya adalah pada bagian Earning.


Bagian Earning INKP yang disajikan oleh RTI versi mobile kali terakhir penulis men-screen capture.


Deviden Per Share (DPS)

Deviden pershare adalah duit yang diterima oleh pemegang saham tiap lembarnya. Di bagian ini dituliskan besar deviden terakhir yang dibayarkan oleh INKP kepada pemegang sahamnya.

Jika kita memegang saham sejumlah 1 lot, artinya kita memiliki 100 lembar saham INKP. Jadi jumlah deviden sebelum dipotong pajak yang kita terima adalah (Rp 100/lembar) x (100 lembar) =  Rp 10.000.

Apa gunanya? Dengan melihat bagian ini, kita bisa mengestimasi berapa kira-kira deviden yang akan kita dapatkan di tahun depan. Apalagi jika kita bisa mengetahui jumlah deviden dari tahun-tahun sebelumnya sehingga dapat diestimasi rata-rata kemungkinan jumlah deviden di tahun berikutnya.

Earning Per Share (EPS)

Earning peshare ini sudah pernah kita bahas pada bagian 1. Di RTI versi mobile, Earning pershare diberikan tanda (*), yang kalau kita baca pada catatan kakinya (paling bawah sendiri pada tampilan aplikasi RTI versi mobile) merupakan nilai yang disetahunkan.

Revenue Per Share (RPS)

Revenue pershare adalah total revenue yang diperoleh INKP pada saat pelaporan dibagi dengan total jumlah saham yang beredar. Jika kita ingat pada tulisan bagian 2 mengenai sales INKP, kita dapatkan angka sejumlah USD 3,335,441,000. Angka ini lalu kita bagi dengan total saham beredar sejumlah 5,470,982,941 lembar, maka kita didapat angka USD 0.6096602815 atau jika dibulatkan menjadi USD 0.6067.

Book Value Per Share (BVPS)

Ini susah. Saya cenderung menerima saja angka book value yang disajikan di RTI. Kadang angka yang disajikan RTI untuk bagian ini juga berbeda dengan angka yang disajikan di akun sekuritas.

Untuk INKP di RTI, penghitungan book value-nya adalah nilai ekuitas (ada di bagian 2). Lalu agar menjadi book value pershare, nilai ekuitas ini dibagi dengan total saham yang beredar. USD 3,771,532,000 dibagi dengan 5,470,982,941 lembar, didapatkan angka USD 0.6893700896 atau dibulatkan menjadi USD 0.6894.

Tapi intinya adalah, book value ini merupakan nilai aset perusahaan ketika pencatatan pelaporan keuangan dikurangi dengan depresiasi atau pengurangan nilai lain termasuk beban. Dalam kasus INKP adalah total aset dikurangi dengan total liabilitas.

Gunanya? Book value merupakan valuasi yang umum digunakan dalam akuntansi (kayaknya sih begitu). Jadi dengan melihat nilainya jika telah dibagi jumlah saham beredar, kita bisa tahu berapa perbandingan antara harga perlembar saham di pasar terhadap book value-nya.

Tapi perlu dicatat bahwa valuasi menggunakan book value ini hanya cocok digunakan sebagai screening awal sebelum menentukan apakah harga di pasar itu terbilang murah atau mahal.

Cash Flow Per Share (CFPS)

Masih sama dengan yang di atas. Yaitu nilai cash flow (ada di bagian 2) dibagi dengan total saham beredar. Untuk kesekian kalinya, cash flow di RTI versi mobile ini hanya mencatat cash flow dari operating profit saja.

USD 544,527,000 dibagi total saham beredar 5,470,982,941 lembar, didapatkan USD 0.09953001241 atau jika dibulatkan menjadi USD 0.0995.

Cash Equiv. Per Share (CEPS)

Cash equivalent pershare adalah total duit kas lancar yang dimiliki oleh INKP pada saat pelaporan dibagi total saham beredar. Angka ini bisa kita dapatkan pada bagian "Asset Lancar" pada item "Kas dan setara kas" di laporan keuangan INKP.

Ada dua item kas dan setara kas INKP pada pelaporan per-31 Desember 2018, yaitu dari pihak ketiga dan pihak berelasi.

Kebetulan pada laporan keuangan INKP per-31 Desember 2018 di bagian "Kas dan setara kas" dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Pihak ketiga dan Pihak berelasi. Dua bagian ini kita jumlahkan, baru kemudian dibagi dengan total saham beredar. 

Oh iya, pada pelaporan keuangan INKP pada gambar tersebut dalam satuan USD dan disajikan dalam ribuan dolar. Artinya, angka yang disajikan tersebut kita kalikan dahulu dengan USD 1,000.

= (USD 745,473,000 + USD 10,783,000) / 5,470,982,941 lembar
= USD 0.1382303707

Atau jika dibulatkan menjadi USD 0.1382.

Net Asset Per Share (NAVS)

Untuk emiten INKP, perhitungannya sama dengan book value pershare di atas. 

Tapi saya juga pernah menemukan ada beberapa emiten yang angka BVPS dan NAVS-nya berbeda. Mungkin lain kali akan saya buat catatan tersendiri mengenai hal ini.

Penyanggahan

Penulis masih dalam tahap belajar dan semoga akan terus semangat untuk belajar. Semua yang dituliskan di blog ini hanya sebagai catatan penulis tentang apa saja yang penulis tahu dan bukan hal yang absolut benar.

Harapan penulis adalah pembaca untuk tetap bersikap kritis terhadap apa yang penulis sampaikan. Kalau perlu silahkan kritik melalui fasilitas komentar yang tersedia.

Terima kasih dan salam.