Saturday, June 22, 2019

Mengejar (Multi) Bagger?

Apa yang lebih membanggakan dari berinvestasi di dunia saham lalu mendapatkan bagger? Saya pernah merasakannya sekali (semoga ke depan akan berkali-kali, hehehe) dan itu sungguh menyenangkan. Bahkan di situ muncul satu kebanggaan meski emiten yang dibeli tersebut merupakan stock pick dari paman Kakdr & Johnfundamental.

Namun kemudian semakin ke sini, entah mengapa pengalaman yang terlalu cepat itu malahan menjadi beban. Menjadi beban karena bagger menjadi mindset utama dalam berinvestasi. Saya menjadi lupa bahwa niat awal berinvestasi, yaitu membangun mindset terlebih dahulu untuk menjaga nilai aset dari inflasi.

Dengan mindset menjaga nilai aset, maka hal pertama yang wajib dijaga adalah jangan sampai rugi.

Bagaimana caranya agar jangan sampai rugi?

Salah satunya adalah dengan menempuh jalan anti-cutloss! Dan untuk memudahkan jalan anti-cutloss, maka screening untuk menemukan emiten berkualitas atau minimal sehat, untuk menambah probabilitas harga naik ketimbang harga turun, menjadi sangat penting.

Kalaupun harga pada akhirnya turun, maka hal-hal yang harus disiapkan dan kemudian dilakukan untuk meminimalkan risk sudah ada dalam bentuk cheklist yang siap segera untuk dieksekusi dan itu bukan cutloss.


Tuesday, May 28, 2019

Daftar Blog Berkualitas tentang Manajemen Modal untuk Pemula di Dunia Saham

Proses tawar-menawar harga saham yang berlangsung hampir tiap hari dari Senin sampai dengan Jumat dari jam 08.45 sampai dengan 16.15 WIB, membuat siapapun yang baru masuk sedikit-banyak akan ada rasa ketakutan dan keserakahan.

Jika harga naik satu tick saja, rasanya sudah seperti seorang jawara, invincible. Tapi sebaliknya, jika harga turun satu tick rasa-rasanya diri ini menjadi yang terbodoh dari orang-orang bodoh yang pernah melegenda di sepanjang catatan sejarah manusia.

Wkwkwk, sebenarnya itu yang saya alami sih. Gak tahu kalau orang lain.

Tapi saya sangat percaya, ketika Sang Pencipta alam semesta memberikan suatu masalah, Dia pasti akan menyertakan solusinya. 

Hanya saja, kadang mencari solusi itu juga merupakan masalah yang lain. 🙃

Tapi tenang, saya sudah tidak tahu harus berbasa-basi bagaimana lagi. Jadi, berikut daftar blog terbaik bagi pemula di dunia saham.

Yes. Ncek Glodok satu ini, tidak pernah bosan untuk membagi ilmunya mengenai manajemen modal di dunia saham. Metode yang dia gunakan sangat sederhana, tapi membutuhkan tingkat kesabaran ekstra.

Jadi, ketika dia akan mengeksekusi suatu saham...

Ah sudahlah. Langsung saja datangi blognya. Baca dari publikasi awal mengenai dasar-dasar Kakdrway. Dari situ kita akan paham, bahwa pergerakan harga saham yang naik dan turun itu hal yang wajar. 

Dan satu-satunya ketidak wajaran adalah jika kita menjual saham dalam kondisi rugi, sedangkan di riilnya, perusahaan yang menerbitkan saham tadi masih beroperasi sebagaimana biasanya.

Blog berikutnya adalah,

Yes. Masih sama, Ncek Glodok lagi. Karena manajemen resiko adalah yang nomor satu terlepas apapun aliran investasi yang digunakan. Baca, baca, dan bacalah.

Berikutnya? 

Yakin masih pengen tahu yang berikutnya? 

Serius? 🤤

Yes, anda benar. Blog berikutnya mengenai manajemen modal adalah,

Manajemen modal terbaik yang pernah saya baca. Mulai dari strategi pembagian modal untuk entry, kapan entryaverage down, taking profit, buyback, dan switching emiten.


Thursday, May 16, 2019

Ketika Prinsip Investasi Dikhianati

Sejak awal, prinsip investasi saya adalah mencari perusahaan sehat dan salah harga. Sehat di sini dalam artian perusahaan ini terus bertumbuh minimal lima tahun terakhir. Sedangkan salah harga adalah dalam artian harga di pasar sekarang tidak mencerminkan valuasinya saat ini berdasarkan laporan keuangan terakhir.

Prinsip inilah yang saya khianati di akhir bulan April 2019.

Ketika membaca berita-berita positif mengenai perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China sejak tahun 2018, saya berpikir bahwa akan sangat sulit mencari lagi perusahaan-perusahaan sehat dan salah harga sebagaimana definisi di paragraf awal.

Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk mengabaikan prinsip tersebut dan hanya melihat peluang growth yang sekiranya bisa memberikan risk-reward memadai.

Hasilnya? Boom!

Perundingan antara salah dua pemimpin ekonomi dunia, presiden Trump dan Xi Jinping, gagal total! Bahkan mereka sekarang kembali saling berbalas untuk menaikkan tarif impor.

Belum reda juga, kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi kembali menghantui ketika pengumuman trade balance Indonesia mengalami defisit lebar.

Setelah habis jatuh tertimpa tangga, kini makin diperparah dengan kejatuhan genteng. Yaitu dua hal di atas, mengenai perang dagang dan defisit neraca perdagangan, terjadi di bulan-bulan di mana banyak emiten yang usai cumdate dividend yang biasanya disusul dengan harga longsor akibat aksi taking profit para pemburu sentimen dividen.

Harusnya di saat seperti ini adalah saat yang sangat tepat mulai mengawasi dan bersiap menginisiasi saham-saham yang memiliki fundamental baik dan salah harga. Namun karena ketidak patuhan mengikuti prinsip investasi, sekarang saya hanya bisa ngiler, sengiler-ngilernya, karena kas sudah menipis.

Btw, saya mulai aktif di dunia saham sejak Desember 2018. Jadi sepertinya peluang yang tercipta sebagaimana di awal tahun 2018 kemarin, ketika akan datang kembali di kuartal dua tahun 2019 (tapi semoga saja cepat balik bullish, hehehe...), kesempatan itu harus saya lewatkan.

Rejeki itu rumit kalau kitanya ndak sabar.


Friday, May 3, 2019

Ratio-ratio di RTI Mobile (bagian 4)

Mungkin pengambilan contoh hasil tangkapan layar ponsel saya sudah tidak relevan lagi. Karena data dari RTI akan terus diperbarui setiap saat. Terutama data yang terkait langsung dengan harga saham INKP sekarang.

Harga perlembar saham INKP hasil tangkapan layar pada 8 April 2018, jam 10.02 WIB.


Sebagai contoh adalah PER (Price Earning Ratio) dimana rasio ini didapatkan dengan cara membagi harga perlembar saham INKP sekarang dengan EPS tercatat terakhir. Harga saham berfluktuasi setiap hari, sedangkan perubahan EPS terjadi minimal tiap kuartal (tiga bulan sekali).

Tapi ya sudahlah, lanjut.

Kali ini mengenai bagian Valuation.

Data valuasi INKP di RTI mobile ketika penulis memulai membuat tulisan berseri mengenai rasio-rasio RTI versi mobile.

Deviden Yield

Deviden yield adalah rasio antara jumlah deviden terakhir dibagi dengan harga perlembar saham INKP pada saat ini. Kebetulan harga saham INKP perlembarnya ketika saya mulai menulis adalah Rp 8.225. Sedangkan deviden terakhir adalah Rp 100 perlembar saham (ada di tulisan bagian 3).

Deviden yield 
= ( Rp 100 / Rp 8.225 ) * 100%
= 1,22%

Price Earning Ratio (PER)*

Price earning ratio adalah seandainya kita membeli perlembar saham INKP seharga Rp 8.225 lalu seluruh earning atau laba INKP dibagikan kepada seluruh pemegang saham, maka akan dibutuhkan 5,39 tahun agar si pemegang saham balik modal. Tentunya ini dengan asumsi bahwa laba INKP selalu konstan setiap tahunnya.

Angka PER di RTI adalah angka PER yang disetahunkan. Artinya jika laporan keuangan terakhir yang tercatat di RTI adalah laporan keuangan kuartal ke empat, berarti PER ini didasarkan angka EPS (earning pershare, lihat pada tulisan bagian 3) di penutupan tahun terakhir.

Namun jika EPS yang terlapor masih kuartal satu, dua, atau tiga, maka angka PER-nya adalah angka estimasi setahun mendatang.

PER didapatkan dengan cara membagi harga sekarang dibagi dengan EPS disetahunkan. Jika harga sekarang Rp 8,225 sedangkan EPS-nya adalah USD 0,1075 atau sekitar Rp 1.505 (asumsi USD 1 = Rp 14,000), maka:

PER
= Rp 8.225 / RP 1.505
= 5,46

Price Sales Ratio (PSR), Price Book Value Ratio (PBVR), dan Price Cash Flow Ratio (PCFR)

Yes, semua di atas saya gabungkan karena perhitungannya sama. Yaitu harga sekarang dibagi dengan, secara berurutan, sales pershare (revenue pershare atau RPS), book value pershare (BVPS), cashflow pershare (CFPS). Angka-angka ini bisa dicek di tulisan bagian 3.

Harga perlembar INKP ketika saya mulai menulis tulisan berseri ini adalah Rp 8.225. Silahkan hitung sendiri dengan asumsi 1 USD = Rp 14.000. Hehehe...

Tuesday, April 23, 2019

Rasio-rasio di RTI Mobile (bagian 3)

Melanjutkan tulisan dari catatan bagian 2 sebelumnya mengenai rasio-rasio di RTI versi mobile.

Tapi sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa pengambilan emiten INKP sebagai contoh di sini bukan karena emiten ini bagian dari portofolio. Melainkan kebetulan saja ketika ingin menulis mengenai rasio-rasio RTI versi mobile, saat itu saya sedang memeriksa laporan keuangan INKP kuartal 4 tahun 2018. INKP sendiri sampai sekarang masih tergolong bearish (kalau tidak salah sih).

Oke lanjut, berikutnya adalah pada bagian Earning.


Bagian Earning INKP yang disajikan oleh RTI versi mobile kali terakhir penulis men-screen capture.


Deviden Per Share (DPS)

Deviden pershare adalah duit yang diterima oleh pemegang saham tiap lembarnya. Di bagian ini dituliskan besar deviden terakhir yang dibayarkan oleh INKP kepada pemegang sahamnya.

Jika kita memegang saham sejumlah 1 lot, artinya kita memiliki 100 lembar saham INKP. Jadi jumlah deviden sebelum dipotong pajak yang kita terima adalah (Rp 100/lembar) x (100 lembar) =  Rp 10.000.

Apa gunanya? Dengan melihat bagian ini, kita bisa mengestimasi berapa kira-kira deviden yang akan kita dapatkan di tahun depan. Apalagi jika kita bisa mengetahui jumlah deviden dari tahun-tahun sebelumnya sehingga dapat diestimasi rata-rata kemungkinan jumlah deviden di tahun berikutnya.

Earning Per Share (EPS)

Earning peshare ini sudah pernah kita bahas pada bagian 1. Di RTI versi mobile, Earning pershare diberikan tanda (*), yang kalau kita baca pada catatan kakinya (paling bawah sendiri pada tampilan aplikasi RTI versi mobile) merupakan nilai yang disetahunkan.

Revenue Per Share (RPS)

Revenue pershare adalah total revenue yang diperoleh INKP pada saat pelaporan dibagi dengan total jumlah saham yang beredar. Jika kita ingat pada tulisan bagian 2 mengenai sales INKP, kita dapatkan angka sejumlah USD 3,335,441,000. Angka ini lalu kita bagi dengan total saham beredar sejumlah 5,470,982,941 lembar, maka kita didapat angka USD 0.6096602815 atau jika dibulatkan menjadi USD 0.6067.

Book Value Per Share (BVPS)

Ini susah. Saya cenderung menerima saja angka book value yang disajikan di RTI. Kadang angka yang disajikan RTI untuk bagian ini juga berbeda dengan angka yang disajikan di akun sekuritas.

Untuk INKP di RTI, penghitungan book value-nya adalah nilai ekuitas (ada di bagian 2). Lalu agar menjadi book value pershare, nilai ekuitas ini dibagi dengan total saham yang beredar. USD 3,771,532,000 dibagi dengan 5,470,982,941 lembar, didapatkan angka USD 0.6893700896 atau dibulatkan menjadi USD 0.6894.

Tapi intinya adalah, book value ini merupakan nilai aset perusahaan ketika pencatatan pelaporan keuangan dikurangi dengan depresiasi atau pengurangan nilai lain termasuk beban. Dalam kasus INKP adalah total aset dikurangi dengan total liabilitas.

Gunanya? Book value merupakan valuasi yang umum digunakan dalam akuntansi (kayaknya sih begitu). Jadi dengan melihat nilainya jika telah dibagi jumlah saham beredar, kita bisa tahu berapa perbandingan antara harga perlembar saham di pasar terhadap book value-nya.

Tapi perlu dicatat bahwa valuasi menggunakan book value ini hanya cocok digunakan sebagai screening awal sebelum menentukan apakah harga di pasar itu terbilang murah atau mahal.

Cash Flow Per Share (CFPS)

Masih sama dengan yang di atas. Yaitu nilai cash flow (ada di bagian 2) dibagi dengan total saham beredar. Untuk kesekian kalinya, cash flow di RTI versi mobile ini hanya mencatat cash flow dari operating profit saja.

USD 544,527,000 dibagi total saham beredar 5,470,982,941 lembar, didapatkan USD 0.09953001241 atau jika dibulatkan menjadi USD 0.0995.

Cash Equiv. Per Share (CEPS)

Cash equivalent pershare adalah total duit kas lancar yang dimiliki oleh INKP pada saat pelaporan dibagi total saham beredar. Angka ini bisa kita dapatkan pada bagian "Asset Lancar" pada item "Kas dan setara kas" di laporan keuangan INKP.

Ada dua item kas dan setara kas INKP pada pelaporan per-31 Desember 2018, yaitu dari pihak ketiga dan pihak berelasi.

Kebetulan pada laporan keuangan INKP per-31 Desember 2018 di bagian "Kas dan setara kas" dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Pihak ketiga dan Pihak berelasi. Dua bagian ini kita jumlahkan, baru kemudian dibagi dengan total saham beredar. 

Oh iya, pada pelaporan keuangan INKP pada gambar tersebut dalam satuan USD dan disajikan dalam ribuan dolar. Artinya, angka yang disajikan tersebut kita kalikan dahulu dengan USD 1,000.

= (USD 745,473,000 + USD 10,783,000) / 5,470,982,941 lembar
= USD 0.1382303707

Atau jika dibulatkan menjadi USD 0.1382.

Net Asset Per Share (NAVS)

Untuk emiten INKP, perhitungannya sama dengan book value pershare di atas. 

Tapi saya juga pernah menemukan ada beberapa emiten yang angka BVPS dan NAVS-nya berbeda. Mungkin lain kali akan saya buat catatan tersendiri mengenai hal ini.

Tuesday, April 16, 2019

Rasio-rasio di RTI Mobile (bagian 2)

Melanjutkan dari tulisan sebelumnya di bagian 1, sekarang kita lanjut dengan membahas pada baris berikutnya, Fundamental. Yes, bagian Most Recent Quarter diabaikan karena saya tidak tahu apa gunanya.

Sajian Fundamental INKP dari RTI versi mobile.


Sales

Sales adalah hasil penjualan kotor barang atau jasa sebelum dikurangi dengan beban maupun pajak.

Maksudnya adalah, semisal seorang pedagang yang jualan kacang goreng, maka sales ini merupakan jumlah duit hasil jualan kacang goreng yang si pedagang terima dalam satu periode pelaporan. Kalau pelaporannya harian, berarti total penjualan sebelum dikurangi beban (modal beli kacang mentah, minyak goreng, gas, dan lain-lain) dalam satu hari itu.

Sajian sales dari emiten INKP pada Laporan Keuangan per-31 Desember 2019. Bisa dicocokkan dengan gambar paling atas di artikel ini.
Assets

Assets adalah segala barang maupun persediaan dagangan yang dimiliki oleh perusahaan.

Balik lagi ke pedagang kacang goreng tadi. Aset adalah seluruh modal yang dimiliki oleh si pedagang. Baik modal itu berupa uang kas, wajan penggorengan, kompor, gerobak sepeda, kentongan bambu, kacang mentah yang belum dimasak, kacang goreng yang belum laku terjual, minyak goreng, dan seterusnya.

Sajian Total Aset INKP pada Laporan Keuangan per-31 Desember 2018.


Loh, kok ada barangnya? Bagaimana menuliskan aset berbentuk barang dalam laporan keuangan? Apakah ditulis semisal, wajan ada satu biji, kompor ada satu biji, dan seterusnya?

Tidak. Jika aset ini berbentuk barang, sederhananya akan ditulis perkiraan nilai barang tersebut andaikata barang itu dijual saat waktu pencatatan.

Bagaimana jika wajan dan kompor tersebut dibeli dengan menggunakan kredit dari koperasi simpan-pinjam dan cicilannya belum lunas?

Kalaupun wajan dan kompor masih belum lunas cicilannya, keduanya masih termasuk sebagai aset. Di sinilah nanti akan diseimbangkan dengan adanya pelaporan Liability atau beban yang di dalamnya termasuk juga hutang.

Liability

Liability pada sajian data RTI mobile adalah liabilitas total, atau beban total. Termasuk di dalamnya hutang, beban sewa, pajak, dan lain sebagainya yang masih ditanggung saat pelaporan.

Maksudnya masih ditanggung adalah belum terselesaikan penuh atau belum terselesaikan sama sekali.

Balik lagi ke soal wajan dan kompor yang belum lunas tadi. Andai kata pelunasan wajan dan kompor tadi baru 50%, maka sisa hutangnya dituliskan pada liabilitas.

Sajian total Liabilitas INKP per-31 Desember 2018.
Equity

Ekuitas adalah hak milik yang didapat setelah mengurangi total aset dengan liabilitas. 

Jadi, masih soal wajan dan kompor di atas, karena dua barang itu pelunasannya baru 50%, maka hak milik atas wajan dan kompor itu separuh milik si pedagang dan separuh lagi milik koperasi simpan pinjam. Begitulah sederhananya.
Sajian total Ekuitas INKP per-31 Desember 2019. Jika kita menghitung total Aset di atas dengan mengurangkannya dengan total Liabilitas, maka nilai Ekuitas inilah yang kita dapatkan.

Cash Flow

Cash flow atau arus kas, sebenarnya terbagi menjadi tiga: arus kas dari aktivitas operasional, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan. Tapi yang dicatatkan di RTI versi mobile hanya arus kas dari aktivitas operasional. Ini yang perlu diperhatikan.

Arus kas dari aktivitas operasional adalah jumlah duit yang digunakan dan didapat oleh si pedagang kacang goreng tadi di atas dalam menjalankan bisnisnya sehari-hari. Semisal duit operasional yang arusnya keluar adalah belanja kacang mentah, minyak goreng, gas, dan sebagainya. Lalu duit operasional yang arusnya masuk adalah duit yang diterima dari pelanggan. Arus duit keluar dan masuk inilah yang dijumlahkan dan menjadi kas dari aktivitas operasional.

Arus kas dari aktivitas investasi ini semisal untuk arus duit yang keluar adalah duit yang digunakan pedagang untuk beli gerobak baru, beli ban baru untuk gerobak, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk arus kas masuk adalah menjual gerobak lama, dan lain sebagainya.

Arus kas dari aktivitas pendanaan, untuk arus duit masuk bisa dimisalkan dengan ketika si pedagang meminjam duit dari koperasi simpan pinjam. Sedangkan untuk duit keluar bisa dimisalkan dengan ketika si pedagang membayar cicilan hutang.

Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa apa yang ditulis di RTI versi mobile hanya arus kas dari aktivitas operasional saja, meski di situ disebutkan sebagai cash flow.
Sajian Arus Kas dari Aktivitas Operasional INKP per-31 Desember 2019. Di RTI vesi mobile, meski ditulis sebagai Cash Flow, sebenarnya hanya menyajikan satu dari tiga jenis arus kas yang ada.
Operating Profit

Operating profit atau laba operasional ini mirip-mirip dengan arus kas operasional di atas.

Untuk bedanya, kita andaikan pedagang kacang goreng tadi mencatatkan pelaporannya harian, maka untuk arus kas operasional adalah duit yang berputar di hari itu. Sedangkan untuk operating profit adalah duit keuntungan setelah dikurangi beban di hari itu.

Bingung?

Sederhananya seperti ini. Kita persempit dulu ke perputaran barang dagangannya, yaitu kacang goreng. Di hari itu, ketika masih dini hari si pedagang membeli kacang mentah sebanyak 10 kg. Paginya kacang tadi digoreng dan siangnya dijual hingga malam tiba. Ketika sudah malam, si pedagang mencatatkan bahwa kacang gorengnya laku 15 kg. Jadi dini hari beli kacang mentah 10 kg dan malamnya mencatat laku 15 kg.

Wkwkwk, ada yang aneh?

Benar sekali, ada selisih 5 kg. Selisih ini berasal dari sisa stok hari sebelumnya yang belum laku terjual.

Jadi, untuk arus kas operasional di hari itu, si pedagang hanya mencatatkan perputaran duitnya. Beli kacang mentah pakai duit dapat 10 kg dan dapat duit dari kacang yang laku laku 15 kg.

Sedangkan untuk operating profit atau laba operasional, si pedagang barulah memasukkan hitung-hitungan kelebihan 5 kg tadi.
Sajian Operating Profit atau Laba Usaha INKP per-31 Desember 2019.

Net Profit

Net Profit atau laba neto adalah laba operasional di atas setelah dikurangi beban lain-lain (terutama pajak penghasilan) atau ditambah keuntungan lain-lain yang tidak terkait langsung dengan kegiatan utama usaha. Nyambi atau sampingan isitilahnya.

Sajian Net Profit INKP per-31 Desember 2019.

Apa Gunanya Semua Kerumitan ini?

Secara kasar, hanya dengan melihat bagian ini kita bisa tahu berapa besar harta si pedagang kacang (ekuitas), berapa beban yang dia tanggung (liabilitas), berapa total modal usaha si pedagang (aset).

Lalu dapat dilihat pula berapa total penjualan si pedagang kacang (sales), duit yang dia putar dalam satu periode pelaporan yang terkait dengan kegiatan operasional (cash flow, sekali lagi cash flow di RTI versi mobile hanya mencatat arus kas operasional saja), duit keuntungan yang dia terima (operating profit), duit keuntungan yang dia terima setelah dikurangi beban lain-lain--terutama pajak penghasilan--dan keuntungan sampingan (net profit).

Jadi intinya adalah kita jadi tahu si pedagang kacang goreng ini pakai berapa duit untuk menghasilkan berapa duit. 

Akan lebih mantap lagi jika kita mau membandingkan dengan pencatatan dari periode sebelumnya. Jika hari sebelumnya si pedagang pakai duit total Rp 800 ribu dan untung neto Rp 200 ribu, sedangkan untuk hari ini dia pakai duit Rp 1 juta dan untung neto Rp 500 ribu, maka kita tahu bahwa modal berputarnya meningkat 20% ( Rp 8 juta menjadi Rp 1 juta) sedangkan keuntungan netonya meningkat 250% (Rp 200 ribu menjadi Rp 500 ribu).









Monday, April 8, 2019

Rasio-rasio di RTI Mobile (bagian 1)

Di RTI versi mobile bagian menu "Key Statistics" merupakan bagian yang sering saya kunjungi untuk melihat sekilas valuasi suatu perusahaan terbuka.

Eee..., sebenarnya saya ingin berbasa-basi dengan kalimat yang wah atau kalimat yang sederhana tapi enak dibaca. Tapi ya sudahlah.

Earnings Per Share

Earnings per share (EPS) adalah jumlah laba-bersih dalam suatu periode dibagi jumlah total saham yang beredar. 

Ada dua macam periode yang disajikan: yaitu periode kuartal dan tahunan (jika belum genap setahun, maka akan disetahunkan).

Sajian EPS emiten INKP dari RTI versi mobile.

Fungsi dari EPS sendiri adalah sebagai gambaran, andaikata seluruh laba bersih itu dibagikan langsung kepada pemilik saham, maka tiap pemilik satu lembar akan menerima uang sebanyak EPS ini. Dalam contoh gambar di atas, maka setiap pemilik satu lembar saham INKP akan memperoleh USD 0,1075 untuk penutupan tahun 2018. Jika 1 USD = Rp 14.000, maka jumlah yang diterima adalah Rp 1.505.

Sajian EPS emiten INKP dari Laporan Keuangan tahunan tahun 2018.

Selain itu, EPS juga bisa dijadikan sebagai gambaran awal mengenai keberlangsungan usaha suatu emiten. 

Jika jumlah EPS dari periode ke periode terus naik, secara sekilas sudah dapat ditebak bahwa bisnis mereka berjalan dengan baik. Kalaupun kadang ada naik-turunnya, selama trennya masih positif, minimal perusahaan masih bisa dikatakan sehat. 

Bahkan, ketika EPS suatu emiten itu minus, tapi seiring dengan waktu angka minus ini terus berkurang secara signifikan, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa emiten tersebut sudah mulai bangkit!

Yaaa, tapi tentu saja hal ini masih harus di cek ulang di laporan keuangannya dan yang paling penting adalah model bisnis perusahaan tersebut harus dipahami terlebih dahulu.


Saturday, March 30, 2019

Menikmati Eksekusi dalam Membeli itu ...

Ada kenikmatan yang tersembunyi ketika melakukan eksekusi membeli; membeli apapun. Ada kelegaan yang semacam seperti keberhasilan dalam suatu pencapaian. Pencapaian dalam hal akuisisi suatu barang atau jasa.

Bahkan meski barang atau jasa yang dibeli tadi sebenarnya juga ndak butuh-butuh amat. Semua hanya berdasarkan pembenaran-pembenaran subyektif; pokoknya harus beli sekarang atau kelak akan menyesal.

Sudah berapa banyak barang di rumah yang hanya berakhir di gudang? Duduk manis diselimuti debu hingga sudah menjadi istana bagi kerajaan kecoa?

Saat itulah ketika shopping yang seharusnya menjadi sebuah transaksi sakral--dalam agama yang saya percaya, jual-beli adalah transaksi sakral yang salah satunya harus memenuhi syarat ijab-qabul--untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau untuk mempermudah kehidupan, telah berevolusi menjadi sebuah hobi.

Saturday, March 23, 2019

Beli Minyak Goreng

Istri sekarang sudah mulai hafal, jika saya sedang muter-muter di area barang kebutuhan sehari-hari di minimarket, itu bukan karena pengen beli. Tapi sekedar menengok tulisan nama perusahaan yang memproduksi barang-barang tersebut.

Seperti minggu ini (antara tanggal 17 sampai 22 Maret 2019), minyak goreng adalah barang kebutuhan sehari-hari yang sering saya tengok.

Di antara nama-nama perusahaan yang sering terlihat adalah Wilmar dan Salim (dua-duanya lupa nama lengkapnya, hanya ingat kalau mereka perusahaan terbuka). Sedangkan yang saya cari, London dan Agro Lestari tidak sekalipun saya temukan, apalagi Tunas.

Dari sini kegalauan muncul.

Dulu sering dengar kalau beli saham, paling mudah adalah saham-saham yang produknya sering terlihat di sekitar kita. Semisal: Uniliver, dari sabun mandi hingga kosmetik; Lalu Indofood, dari jajanan penuh garam hingga bumbu-bumbu dapur.

Tapi yang saya lakukan malah membeli emiten CPO yang produknya sama sekali tidak pernah saya lihat; dalam artian nama perusahaannya tertulis di produknya.

Udah itu saja. Hanya curhat.

Saturday, March 16, 2019

Membeli Warung

Membeli saham, bagi saya pribadi, itu bisa diibaratkan sama seperti ketika membeli warung. Baik warung yang dibeli dengan tujuan sebagai sumber penghasilan atau warung yang dibeli untuk dijual kembali.

Saya ulangi lagi:

  1. Membeli warung dengan tujuan sebagai sumber penghasilan.
  2. Membeli warung dengan tujuan untuk dijual kembali.
Tapi dari dua tujuan di atas, ada satu kesamaan, yaitu harus untung. Harus profit! Sedangkan yang membedakan hanya timeframe untuk mencapai profit.

Semisal ada sebuah warung yang berlokasi di daerah kos-kosan mahasiswa yang akan dijual seharga 225 juta rupiah, dengan data sebagai berikut:
  1. Warung ini adalah warung makan.
  2. Luas tanah 36 meter persegi dengan harga umum di daerah tersebut adalah 2 juta rupiah permeter persegi. Dijual beserta bangunan dan isi serta sudah SHM.
  3. Mempekerjakan 4 orang karyawan dibagi menjadi dua shift kerja dengan gaji masing-masing 750 ribu rupiah perbulan.
  4. Perputaran uang non-gaji pekerja perhari rata-rata 2 juta rupiah. 
  5. Laba bersih rata-rata 500 ribu rupiah perhari.
  6. Warung ini beroprasi dari jam 05.00 WIB sampai dengan jam 22.00 WIB.
Apakah penawaran ini menarik? Mari kita hitung.

Aset tetap kasar:
  • Tanah dan bangunan 36 meter persegi dengan harga 2 juta rupiah permeter persegi. Harga yang di dapatkan adalah 72 juta rupiah permeter persegi.
Gaji pegawai:
  • Gaji pegawai total selama setahun plus gaji ke-13 (tunjangan hari raya) yang harus di keluarkan sebesar 39 juta rupiah.
Pengeluaran modal non-gaji pekerja disetahunkan:
  • Perputaran uang perhari rata-rata 2 juta rupiah. Disetahunkan dengan perkiraan operasi pertahun rata-rata hanya 10 bulan dan perbulan 30 hari, sehingga menjadi 600 juta rupiah.
Laba bersih rata-rata perhari disetahunkan:
  • Dihitung sama sebagaimana pengeluaran modal disetahunkan, sehingga menjadi 150 juta rupiah.
Apakah warung ini menarik bagi Anda? Jika menarik, apa tujuan Anda membeli warung ini, apakah untuk sumber penghasilan atau untuk dijual lagi ke yang lain? 

Catatan: 
- Tidak usah takut ada yang menyalahkan, karena apapun keputusan Anda, itulah keputusan paling tepat yang sesuai dengan profil resiko yang mampu Anda tanggung. :)
- Jangan percaya dengan hitungan saya di atas, akan lebih baik jika Anda melakukan perhitungan Anda sendiri.

Wednesday, March 6, 2019

Pembentukan Harga

Di Semarang, ada sebuah pasar sayur yang sudah buka sejak tengah malam. Pasar tersebut bernama pasar Bandungan. 

Pasar ini merupakan salah satu tempat para pedagang sayur retail kecil dari kota Semarang untuk membeli dagangan yang kemudian akan di jual lagi. 

Para pedagang di pasar Bandungan ini, berposisi sebagai "price maker", karena merekalah yang menentukan harga sayur yang mereka jual. Sedangkan pembelinya yang merupakan retail, adalah "price taker" karena membeli sayur yang telah ditentukan tadi tanpa menawar. 

Pun demikian, bukan berarti retailer dari kota Semarang harus pasrah dengan harga yang ditentukan oleh pedagang di pasar Bandungan. Para retailer dari kota Semarang tetap berhak untuk menawar harga yang tadi ditentukan oleh para pedagang di Bandungan. 

Ketika pedagang di Bandungan menyetujui harga yang ditawarkan oleh retailer dari kota Semarang, meski dengan harga yang lebih rendah, pada saat itulah posisinya menjadi terbalik.

Yaitu pedagang pasar Bandungan menjadi "price taker" karena menyetujui harga yang ditawarkan oleh pembeli, sedangkan retailer dari kota Semarang, sebagai pembeli, menjadi "price maker". 

Kejadian di atas kemudian berulang ketika pagi hari, saat matahari terbit, di pasar-pasar kecil di kota Semarang ketika retailer sayur sudah kembali ke pasar masing-masing di kota. Hanya saja kali ini pembelinya adalah warga kota yang ingin berinvestasi kepada kesehatan tubuh mereka dengan membeli sayur. 

Parkiran pasar Pedurungan, yang merupakan salah satu pasar tradisional di kota Semarang.

Jadi, siapa yang untung dan siapa yang rugi? Semua untung dan tidak ada yang rugi selama tahu apa yang dilakukan.

Catatan:
Price Maker: Bagi mereka yang manaruh pesanan di antrian "bid" atau "offer". 

Price Taker: Bagi yang hajar kanan atau buang kiri. 

Jadi, penggerak sesungguhnya harga adalah "price taker" sedangkan pembentuk range harga (yang dalam teknikal analisis disebut support-resistant, bahkan spread satu tick-pun adalah support-resistant kecil atau lemah) adalah "price maker". 

Wednesday, February 27, 2019

Halo

Setelah beberapa tahun ndak nulis di blog, tiba-tiba saja sejak akhir tahun kemarin (2018), keinginan untuk menulis itu datang kembali.

Ada banyak hal yang ingin ditulis di sini. Tapi sebagian besar mungkin akan berkisar mengenai petualangan pribadi ketika mulai mengenal dan lalu masuk ke dunia investasi.

Apa yang dulu saya yakini benar, tiba-tiba saja berubah menjadi salah, lalu berubah kembali menjadi benar atau sebaliknya--aneh-aneh pokoknya.

Hingga akhirnya berkesimpulan bahwa, open mind-lah yang menjadi jalan tengah mencari ilmu--oh, tentu saja yang dimaksud di sini adalah ilmu dunia.

Penyanggahan

Penulis masih dalam tahap belajar dan semoga akan terus semangat untuk belajar. Semua yang dituliskan di blog ini hanya sebagai catatan penulis tentang apa saja yang penulis tahu dan bukan hal yang absolut benar.

Harapan penulis adalah pembaca untuk tetap bersikap kritis terhadap apa yang penulis sampaikan. Kalau perlu silahkan kritik melalui fasilitas komentar yang tersedia.

Terima kasih dan salam.