Saturday, March 30, 2019

Menikmati Eksekusi dalam Membeli itu ...

Ada kenikmatan yang tersembunyi ketika melakukan eksekusi membeli; membeli apapun. Ada kelegaan yang semacam seperti keberhasilan dalam suatu pencapaian. Pencapaian dalam hal akuisisi suatu barang atau jasa.

Bahkan meski barang atau jasa yang dibeli tadi sebenarnya juga ndak butuh-butuh amat. Semua hanya berdasarkan pembenaran-pembenaran subyektif; pokoknya harus beli sekarang atau kelak akan menyesal.

Sudah berapa banyak barang di rumah yang hanya berakhir di gudang? Duduk manis diselimuti debu hingga sudah menjadi istana bagi kerajaan kecoa?

Saat itulah ketika shopping yang seharusnya menjadi sebuah transaksi sakral--dalam agama yang saya percaya, jual-beli adalah transaksi sakral yang salah satunya harus memenuhi syarat ijab-qabul--untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau untuk mempermudah kehidupan, telah berevolusi menjadi sebuah hobi.

Saturday, March 23, 2019

Beli Minyak Goreng

Istri sekarang sudah mulai hafal, jika saya sedang muter-muter di area barang kebutuhan sehari-hari di minimarket, itu bukan karena pengen beli. Tapi sekedar menengok tulisan nama perusahaan yang memproduksi barang-barang tersebut.

Seperti minggu ini (antara tanggal 17 sampai 22 Maret 2019), minyak goreng adalah barang kebutuhan sehari-hari yang sering saya tengok.

Di antara nama-nama perusahaan yang sering terlihat adalah Wilmar dan Salim (dua-duanya lupa nama lengkapnya, hanya ingat kalau mereka perusahaan terbuka). Sedangkan yang saya cari, London dan Agro Lestari tidak sekalipun saya temukan, apalagi Tunas.

Dari sini kegalauan muncul.

Dulu sering dengar kalau beli saham, paling mudah adalah saham-saham yang produknya sering terlihat di sekitar kita. Semisal: Uniliver, dari sabun mandi hingga kosmetik; Lalu Indofood, dari jajanan penuh garam hingga bumbu-bumbu dapur.

Tapi yang saya lakukan malah membeli emiten CPO yang produknya sama sekali tidak pernah saya lihat; dalam artian nama perusahaannya tertulis di produknya.

Udah itu saja. Hanya curhat.

Saturday, March 16, 2019

Membeli Warung

Membeli saham, bagi saya pribadi, itu bisa diibaratkan sama seperti ketika membeli warung. Baik warung yang dibeli dengan tujuan sebagai sumber penghasilan atau warung yang dibeli untuk dijual kembali.

Saya ulangi lagi:

  1. Membeli warung dengan tujuan sebagai sumber penghasilan.
  2. Membeli warung dengan tujuan untuk dijual kembali.
Tapi dari dua tujuan di atas, ada satu kesamaan, yaitu harus untung. Harus profit! Sedangkan yang membedakan hanya timeframe untuk mencapai profit.

Semisal ada sebuah warung yang berlokasi di daerah kos-kosan mahasiswa yang akan dijual seharga 225 juta rupiah, dengan data sebagai berikut:
  1. Warung ini adalah warung makan.
  2. Luas tanah 36 meter persegi dengan harga umum di daerah tersebut adalah 2 juta rupiah permeter persegi. Dijual beserta bangunan dan isi serta sudah SHM.
  3. Mempekerjakan 4 orang karyawan dibagi menjadi dua shift kerja dengan gaji masing-masing 750 ribu rupiah perbulan.
  4. Perputaran uang non-gaji pekerja perhari rata-rata 2 juta rupiah. 
  5. Laba bersih rata-rata 500 ribu rupiah perhari.
  6. Warung ini beroprasi dari jam 05.00 WIB sampai dengan jam 22.00 WIB.
Apakah penawaran ini menarik? Mari kita hitung.

Aset tetap kasar:
  • Tanah dan bangunan 36 meter persegi dengan harga 2 juta rupiah permeter persegi. Harga yang di dapatkan adalah 72 juta rupiah permeter persegi.
Gaji pegawai:
  • Gaji pegawai total selama setahun plus gaji ke-13 (tunjangan hari raya) yang harus di keluarkan sebesar 39 juta rupiah.
Pengeluaran modal non-gaji pekerja disetahunkan:
  • Perputaran uang perhari rata-rata 2 juta rupiah. Disetahunkan dengan perkiraan operasi pertahun rata-rata hanya 10 bulan dan perbulan 30 hari, sehingga menjadi 600 juta rupiah.
Laba bersih rata-rata perhari disetahunkan:
  • Dihitung sama sebagaimana pengeluaran modal disetahunkan, sehingga menjadi 150 juta rupiah.
Apakah warung ini menarik bagi Anda? Jika menarik, apa tujuan Anda membeli warung ini, apakah untuk sumber penghasilan atau untuk dijual lagi ke yang lain? 

Catatan: 
- Tidak usah takut ada yang menyalahkan, karena apapun keputusan Anda, itulah keputusan paling tepat yang sesuai dengan profil resiko yang mampu Anda tanggung. :)
- Jangan percaya dengan hitungan saya di atas, akan lebih baik jika Anda melakukan perhitungan Anda sendiri.

Wednesday, March 6, 2019

Pembentukan Harga

Di Semarang, ada sebuah pasar sayur yang sudah buka sejak tengah malam. Pasar tersebut bernama pasar Bandungan. 

Pasar ini merupakan salah satu tempat para pedagang sayur retail kecil dari kota Semarang untuk membeli dagangan yang kemudian akan di jual lagi. 

Para pedagang di pasar Bandungan ini, berposisi sebagai "price maker", karena merekalah yang menentukan harga sayur yang mereka jual. Sedangkan pembelinya yang merupakan retail, adalah "price taker" karena membeli sayur yang telah ditentukan tadi tanpa menawar. 

Pun demikian, bukan berarti retailer dari kota Semarang harus pasrah dengan harga yang ditentukan oleh pedagang di pasar Bandungan. Para retailer dari kota Semarang tetap berhak untuk menawar harga yang tadi ditentukan oleh para pedagang di Bandungan. 

Ketika pedagang di Bandungan menyetujui harga yang ditawarkan oleh retailer dari kota Semarang, meski dengan harga yang lebih rendah, pada saat itulah posisinya menjadi terbalik.

Yaitu pedagang pasar Bandungan menjadi "price taker" karena menyetujui harga yang ditawarkan oleh pembeli, sedangkan retailer dari kota Semarang, sebagai pembeli, menjadi "price maker". 

Kejadian di atas kemudian berulang ketika pagi hari, saat matahari terbit, di pasar-pasar kecil di kota Semarang ketika retailer sayur sudah kembali ke pasar masing-masing di kota. Hanya saja kali ini pembelinya adalah warga kota yang ingin berinvestasi kepada kesehatan tubuh mereka dengan membeli sayur. 

Parkiran pasar Pedurungan, yang merupakan salah satu pasar tradisional di kota Semarang.

Jadi, siapa yang untung dan siapa yang rugi? Semua untung dan tidak ada yang rugi selama tahu apa yang dilakukan.

Catatan:
Price Maker: Bagi mereka yang manaruh pesanan di antrian "bid" atau "offer". 

Price Taker: Bagi yang hajar kanan atau buang kiri. 

Jadi, penggerak sesungguhnya harga adalah "price taker" sedangkan pembentuk range harga (yang dalam teknikal analisis disebut support-resistant, bahkan spread satu tick-pun adalah support-resistant kecil atau lemah) adalah "price maker". 

Penyanggahan

Penulis masih dalam tahap belajar dan semoga akan terus semangat untuk belajar. Semua yang dituliskan di blog ini hanya sebagai catatan penulis tentang apa saja yang penulis tahu dan bukan hal yang absolut benar.

Harapan penulis adalah pembaca untuk tetap bersikap kritis terhadap apa yang penulis sampaikan. Kalau perlu silahkan kritik melalui fasilitas komentar yang tersedia.

Terima kasih dan salam.