Saturday, March 16, 2019

Membeli Warung

Membeli saham, bagi saya pribadi, itu bisa diibaratkan sama seperti ketika membeli warung. Baik warung yang dibeli dengan tujuan sebagai sumber penghasilan atau warung yang dibeli untuk dijual kembali.

Saya ulangi lagi:

  1. Membeli warung dengan tujuan sebagai sumber penghasilan.
  2. Membeli warung dengan tujuan untuk dijual kembali.
Tapi dari dua tujuan di atas, ada satu kesamaan, yaitu harus untung. Harus profit! Sedangkan yang membedakan hanya timeframe untuk mencapai profit.

Semisal ada sebuah warung yang berlokasi di daerah kos-kosan mahasiswa yang akan dijual seharga 225 juta rupiah, dengan data sebagai berikut:
  1. Warung ini adalah warung makan.
  2. Luas tanah 36 meter persegi dengan harga umum di daerah tersebut adalah 2 juta rupiah permeter persegi. Dijual beserta bangunan dan isi serta sudah SHM.
  3. Mempekerjakan 4 orang karyawan dibagi menjadi dua shift kerja dengan gaji masing-masing 750 ribu rupiah perbulan.
  4. Perputaran uang non-gaji pekerja perhari rata-rata 2 juta rupiah. 
  5. Laba bersih rata-rata 500 ribu rupiah perhari.
  6. Warung ini beroprasi dari jam 05.00 WIB sampai dengan jam 22.00 WIB.
Apakah penawaran ini menarik? Mari kita hitung.

Aset tetap kasar:
  • Tanah dan bangunan 36 meter persegi dengan harga 2 juta rupiah permeter persegi. Harga yang di dapatkan adalah 72 juta rupiah permeter persegi.
Gaji pegawai:
  • Gaji pegawai total selama setahun plus gaji ke-13 (tunjangan hari raya) yang harus di keluarkan sebesar 39 juta rupiah.
Pengeluaran modal non-gaji pekerja disetahunkan:
  • Perputaran uang perhari rata-rata 2 juta rupiah. Disetahunkan dengan perkiraan operasi pertahun rata-rata hanya 10 bulan dan perbulan 30 hari, sehingga menjadi 600 juta rupiah.
Laba bersih rata-rata perhari disetahunkan:
  • Dihitung sama sebagaimana pengeluaran modal disetahunkan, sehingga menjadi 150 juta rupiah.
Apakah warung ini menarik bagi Anda? Jika menarik, apa tujuan Anda membeli warung ini, apakah untuk sumber penghasilan atau untuk dijual lagi ke yang lain? 

Catatan: 
- Tidak usah takut ada yang menyalahkan, karena apapun keputusan Anda, itulah keputusan paling tepat yang sesuai dengan profil resiko yang mampu Anda tanggung. :)
- Jangan percaya dengan hitungan saya di atas, akan lebih baik jika Anda melakukan perhitungan Anda sendiri.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Penyanggahan

Penulis masih dalam tahap belajar dan semoga akan terus semangat untuk belajar. Semua yang dituliskan di blog ini hanya sebagai catatan penulis tentang apa saja yang penulis tahu dan bukan hal yang absolut benar.

Harapan penulis adalah pembaca untuk tetap bersikap kritis terhadap apa yang penulis sampaikan. Kalau perlu silahkan kritik melalui fasilitas komentar yang tersedia.

Terima kasih dan salam.