Perspektif Baru Tipe-tipe Entry: Reversal, Dollar-cost Averaging, dan Continuation

Sejauh yang saya tahu, ada 3 tipe entry beli saham: reversaldollar-cost averaging, atau continuation. Dari ketiga tipe tersebut, masing-masing membawa konsekuensinya sendiri-sendiri.

Entry reversal, dollar-cost averaging, dan continuation itu apa? Silahkan Google untuk definisi aslinya. 

Tapi karena saya bukan teknikalis murni, jadinya dibikinlah definisi sendiri dari ketiga hal tadi. 🤣

PENTING: Apa yang ditulis di sini, asumsinya pembaca telah mengerti strategi pisau jatuh dari paman Kakdr. Baik itu mengapa beli, lalu mengapa jual.

Reversal

Karena kebanyakan emiten yang saya cari adalah emiten-emiten murah secara rasio-rasio laporan keuangan plus dengan harganya yang sudah jatuh cukup dalam, a.k.a. pisau jatuh ala paman Kakdr, maka masuknya--barangkali yang paling cocok--adalah pemburu reversal ketika melakukan entry beli kali pertama. Sekali lagi kali pertama entry.

Kenapa pemburu reversal? Seperti yang sudah disebut di atas, karena: 
  1. Rasio-rasio laporan keuangan sudah cukup murah. 
  2. Harga sudah jatuh cukup dalam. 
  3. Belum lagi jika ada nilai plus dividen yang mana yield-nya akan semakin tinggi jika harga jatuh semakin dalam, yang mana berfungsi sebagai ongkos tunggu.
Dari tiga kriteria itu saja sudah jelas bahwa asumsinya adalah harga sudah di dasar dan tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi reversal.

Tapi karena pada dasarnya kita--atau barangkali hanya saya saja yak--tidak pernah tahu kapan harga akan berbalik arah, maka terkadang--atau lebih tepatnya sering--harga ternyata masih saja terus turun. Maka, entry awal yang semula bertujuan untuk memburu reversal, bisa dipertimbangkan ke kategori entry selanjutnya, yaitu:

Dollar-cost Averaging

Yeah, ini perubahan yang berat secara psikologis. Galaunya bisa sampai bikin masuk angin. Apalagi jika bias long dan ditambah lagi dengan sizing-nya yang berlebihan. Duh, jadi tatoan loreng deh itu punggung habis kerokan. 🤭

Standar strategi pisau jatuh mengajarkan, averaging ini dilakukan jika harga telah turun -30% dari kali terakhir melakukan entry beli.

Jadi jika kali terakhir beli di harga Rp 1.000/lot, maka pembelian ke dua di Rp 700/lot, lalu pembelian ke tiga di Rp 490/lot, ke empat di Rp 343/lot, dan seterusnya.

Di masing-masing pembelian menggunakan jumlah Rupiah yang sama. Sebagai contoh jika pembelian kali pertama di Rp 1.000/lot sejumlah Rp 500.000, maka pembelian ke dua di RP 700/lot sejumlah Rp 500.000, ke tiga di Rp 490/lot sejumlah Rp 500.000, dan seterusnya. Jadi nilai Rupiahnya tetap sama di Rp 500.000, dan nantinya jumlah lot yang didapat di tiap-tiap pembelianlah yang berubah--bertambah.

Begitulah standarnya. 

Tapi karena psikologis ini seringnya goyang akibat noise berita serta kabar-kabar burung yang beredar di forum-forum saham, sebelum melakukan averaging seringnya saya melakukan cek ulang rasio-rasio laporan keuangan si emiten, berita-berita resmi (surat kabar nasional), pengumuman-pengumuman resmi dari bursa, atau apapun yang bisa menguatkan mental untuk melakukan averaging.

Jika hasilnya tidak ada apa-apa, ya sudah, hajar full! Tapi kalau ada hal yang bikin kurang nyaman, jumlah rupiah averaging saya kurangi atau belinya bertahap. 

Semisal dengan contoh di atas yang seharusnya Rp 500.000, saya bagi menjadi beberapa tahap. Semisal tahap pertama hanya Rp 100.000, lalu ketika sudah ada tanda-tanda perbaikan--laporan keuangan, pengumuman, atau berita--pembelian tahap ke dua tadi ditambah lagi selama masih di area averaging--floating loss masih di bawah -30% dan tentunya jika masih ada kas. 🤣

Kesannya memang seperti murtad dari aliran pisau jatuh, tapi tidak. Saya bisa membela diri. 😤

Masih dengan contoh di atas, setelah melakukan averaging Rp 100.000, sisa jatah senilai Rp 400.000 digunakan untuk membeli emiten lain dengan potensi reversal! 🤣

Eh, tapi mampus-nya kalau emiten yang baru dibeli akhirnya juga terus jatuh, buyar dah, makin banyak kas yang harus disediakan untuk averaging.

Continuation

Tipe entry ini berbeda dengan tipe entry reversal atau dollar-cost averaging. Jika dua tipe di atas fokusnya lebih karena harga telah murah dan mengharapkan gain lebar minimal +50% sampai +100% atau lebih, maka untuk tipe continuation lebih mengharapkan kepada konsistensi potensi mendapatkan dividen setiap tahun dengan yield yang tinggi--minimal hampir setara dengan bunga bank konvensional.

Jadi, meski harganya terus naik--selama naiknya stabil dan disertai konsistensi PBV, ROE, ROA, DER setiap kuartal atau tahun--dan masih menawarkan yield dividen yang menarik, maka hajar terus!

Loh, bukannya ini masuk di dollar-cost averaging?

Kalau menurut saya tidak. Karena fokus dollar-cost averaging masih kepada gain dalam jangka panjang. Jadi tujuan utamanya masih untuk melakukan aksi taking profit untuk mendapatkan keuntungan. Kalaupun emiten tersebut juga membagikan dividen, dividen ini hanya berfungsi sebagai ongkos tunggu dan bukan merupakan tujuan utama pembelian.

Continuation bagi saya adalah hold selama mungkin jika kriteria utama berupa dividen yield masih menarik. Sehingga target utamanya adalah kembalinya modal yang berasal dari pembagian dividen.