Keuntungan Riil dari Investasi Saham: Dividen atau Gain?

Semua orang yang sudah masuk di dunia saham, saya yakin sudah memiliki jawaban dan argumen masing-masing. Jawaban itu kurang lebih bisa dikategorikan menjadi tiga: dividen adalah riil, gain adalah riil, atau dua-duanya adalah riil.

Tapi dengan tiga jenis jawaban di atas lalu saya memilih dan menerima salah satunya, maka artikel ini akan berhenti di paragraf pertama atau bahkan tidak akan ada artikel ini.

Oleh sebab itu, saya ingin membuat sebuah kronologi pengandaian.

Kita andaikan saja:
  1. BEI, atau pasar saham Indonesia hanya membolehkan WNI saja yang boleh membeli saham-saham yang diperdagangkan.
  2. Hanya ada satu sekuritas di Indonesia yang baik hati, adil, dan tidak sombong.
  3. Seluruh penduduk Indonesia, tanpa terkecuali, memiliki pandangan bahwa investasi saham itu menarik.
  4. Seluruh penduduk Indonesia, tanpa terkecuali, memiliki masing-masing 1 akun RDN.
  5. Seluruh penduduk Indonesia, tanpa terkecuali, setuju bahwa saham ABCD yang akan IPO bulan depan adalah saham dengan fundamental yang sangat bagus dan semuanya mengikuti proses bidding IPO (atau apapun itu istilahnya). Karena itu pula, semuanya melakukan bidding dengan harga maksimum.
  6. Jumlah saham ABCD yang akan di-IPO-kan sejumlah 100 kali jumlah penduduk Indonesia melalui satu-satunya sekuritas di poin 2. Yang mana sebagaimana telah di sebut di poin 4 bahwa seluruh penduduk Indonesia memiliki 1 akun RDN dan ikut dalam proses bidding IPO saham ABCD.
  7. Karena tingginya minat, akhirnya pihak sekuritas memutuskan untuk membagi masing-masing peserta bidding dengan sejumlah 100 lembar perakun atau masing-masing mendapatkan 1 lot.
Setelah beberapa waktu, akhirnya proses IPO berjalan lancar dan akhirnya saham ABCD resmi melantai di bursa saham.

Lalu apa yang terjadi dengan harga saham ABCD kemudian setelah melantai di bursa?

Saya membayangkan, tidak ada satupun pemegang saham yang mau menjual saham ABCD mereka. Tapi justru semuanya ingin menambah jumlah lot yang dimiliki.

Harga kemudian ARA berhari-hari, lalu kena suspend, dibuka, lalu kembali ARA berhari-hari tanpa ada satupun yang mau menjual sahamnya. Begitu terus dan terus dan terus berpuluh-puluh tahun. Bahkan tiap-tiap pemilik lebih memilih berencana untuk mewariskan saham ABCD ini hingga tujuh turunan.

Jika hal di atas benar-benar terjadi, lalu dari mana para pemilik saham ABCD mendapatkan keuntungan dari saham mereka jika mereka semua tidak ada satupun yang berniat untuk menjualnya?

Dividen, itupun jika perusahaan memiliki ekstra kas yang tidak tahu mau diapakan lagi.