Untuk Penggemar Reksadana

Sekitar akhir Maret 2020, IHSG sempat menyentuh angka 3940-an dari 6200-an di awal tahun yang sama. Turunnya indeks sebesar kurang-lebih -30% sudah pasti akan sangat berpengaruh dengan nilai NAV/unit hampir semua reksadana saham yang telah lama bercokol di bursa. Beberapa bahkan yang pada tahun 2018-2019 di Bareksa disebut memiliki return tahunan terbaik, semuanya ikut nyelem bareng bersama dengan IHSG dan itu bisa menjadi sebuah berita baik!

PENTING! Artikel ini hanya bagi yang telah berinvestasi reguler di reksadana saham lebih dari setahun.

Semua berawal dari perang dagang antara US dan China yang semakin memanas pada tahun 2019 yang menyebabkan kekacauan di sisi supply barang produksi yang notabene banyak diproduksi di China daratan. Hal tersebut memaksa beberapa produsen untuk mendiversifikasikan tempat produksi mereka ke negara lain dan salah satu negara tujuan yang hot pada tahun itu adalah negara Vietnam. Yes, diakui atau tidak pembukaan pabrik yang membutuhkan banyak tenaga kerja di negara sosialis itu memiliki keunggulan berupa kepastian angka upah minimum pekerja.

Belum selesai dengan masalah kekacauan di sisi supply, di Maret 2020, dunia kembali dikacaukan oleh sebuah pandemi yang kali ini bukan hanya mengacaukan sisi supply barang namun juga pada sisi demand. Beberapa negara melakukan penutupan diri penuh atau bahasa kerennya melakukan lockdown dan ada pula yang melakukan penutupan sebagian yang pada akhirnya mengurangi pergerakan masyarakat. Dengan dibatasinya pergerakan ini maka spending masyarakat untuk konsumsi secara drastis juga berkurang.

Dibayangi oleh masalah tersebut di atas, timbul kekhawatiran bahwa earning perusahaan-perusahaan di bursa akan turun dan kekhawatiran ini tercermin dalam pergerakan indeks IHSG yang turun kurang-lebih -30% pada akhir Maret 2020 kemarin. Andaikata BEI tidak mengurangi jam transaksi yang semula ditutup jam 16.15 WIB menjadi sekitar jam 15.00 WIB serta menaikkan batas auto reject bawah (ARB) menjadi sekitar -5% dan juga secara resmi melarang transaksi short selling, bisa jadi indeks IHSG akan jatuh lebih dalam.

Please bare with me little more. Setelah itu baru membahas peluang investasi reksadana pasar saham.

Jadi gini, jika kita ingat penerapan PSBB di Indonesia, maka pada dasarnya secara efektif pembatasan pergerakan masyarakat terjadi di tengah akhir kwartal pertama tahun 2020. Sedangkan untuk pembukaan terbatas PSBB, baru dilakukan akhir-akhir ini sekitar tengah atau akhir bulan Juni 2020. Artinya efektif sepanjang kwartal kedua tahun 2020 ekonomi melambat drastis karena PSBB. Oleh karena itu secara logika, seharusnya akan memberikan efek negatif terburuk bagi earning kwartal kedua perusahaan-perusahaan di bursa.

Dengan asumsi bahwa di kwartal ketiga hingga nanti kwartal pertama atau kedua tahun 2021 progress pengembangan vaksin hingga pada tahap distribusi berjalan sesuai rencana, maka ada kemungkinan bahwa pemulihan ekonomi akan mulai berjalan merangkak naik pelan-pelan di masa-masa mendatang.

Yes, memang masih ada kemungkinan adanya gelombang kedua di beberapa negara yang telah berhasil mengatasi masalah pandemi ini. Tapi jika melihat kebijakan negara kita yang saat ini menerapkan pembukaan terbatas PSBB, pemerintah lebih menekankan kampanye kepada masyarakat untuk dengan mandiri sadar atas pentingnya patuh terhadap protokol kesehatan ketimbang melakukan lockdown penuh. Dan menurut saya ini adalah solusi tengah yang di satu sisi berusaha menyelamatkan masyarakat dari virus dan di sisi lain juga berusaha menyelamatkan kondisi ekonomi masyarakat.

Sebuah Kesempatan Berinvestasi di Reksadana Saham

Kesimpulan dari argumen-argumen di atas pada dasarnya adalah, untuk kwartal pertama, pengaruh PSBB terhadap earning perusahaan hanya sebagian karena pemberlakuan PSBB baru efektif di bulan Maret 2020. Kemudian untuk kwartal kedua, pengaruh PSBB terhadap earning perusahaan bisa dikatakan berpengaruh penuh karena PSBB baru dibuka bertahap sekitar bulan Juni 2020. Jadi ekspekstasinya nanti laporan keuangan di kwartal kedua akan lebih buruk ketimbang kwartal pertama.

Kemudian jika timeline pengembangan vaksin terus berjalan lancar dan tidak ada kenaikan kasus terjangkit virus yang signifikan di Indonesia dan jumlah pasien sembuh terus bertambah, kemungkinan besar penerapan pembukaan PSBB terbatas akan terus bertahan hingga nanti akhirnya vaksin telah benar-benar didistribusikan.

Oleh karena itu, nanti pascaterbitnya laporan keuangan perusahaan kwartal kedua yang akan banyak tebit di bulan Juli-Agustus (yang bisa jadi nanti akan ada koreksi indeks beberapa persen karena merespon earning kwartal kedua), harapan setelahnya IHSG akan mulai bergerak membaik pelahan-lahan. Dan di saat itulah merupakan saat yang tepat untuk menginvestasikan tabungan di reksadana saham secara pelahan-lahan namun dengan jumlah agak sedikit lebih agresif ketimbang beberapa tahun terakhir. Lagipula selama PSBB kemarin saya yakin spending konsumsi kita juga lebih sedikit dan lebih banyak sisa uang kas karena ndak bisa jalan-jalan dan jajan seperti biasanya, iya ndak?