Syaifur Rizal  · Sebuah jurnal investasi

Mencari yang Benar atau Mencari Pembenaran?

Sejak beberapa hari lalu ada satu hal yang lupa saya cek dalam pengembangan laman situs blog ini; yaitu berkas koleksi yang ada di folder _posts. Akibatnya, banyak hal bodoh yang terjadi.

Salah satunya adalah {{ page.excerpt }} tidak berfungsi. Dan bodohnya ketimbang memeriksa berkas yang ada di folder _posts, saya malahan langsung mencari di Google dengan kata kunci: “Jekyll page.excerpt doesn’t work.”

Dan Anda tahu akibatnya?

Ketika Google menyajikan hasil penelusuran yang jumlahnya bejibun, otomatis saja saya memiliki pembenaran bahwa kesalahan berada pada si Jekyll!

Padahal jika sejenak mau memerikasa folder _posts, masalah yang saya alami bisa jadi langsung selesai; karena berkas-berkas yang ada rupanya berbentuk *.html dan bukan *.md yang mengakibatkan builder dari Jekyll mengabaikan untuk mengoleksi ringkasan artikel.

Pembenaran dalam Investasi

Sama halnya dengan kasus di atas, ketika akan membeli atau akan menjual atau sedang memiliki atau sudah menjual suatu saham, terkadang saya juga mencari pembenaran-pembenaran.

Sebagai contoh yaitu dengan melihat naik dan turunnya harga saham terakhir sebagai pembenaran. Semisal saja saya baru membeli saham ABCD dengan alasan ABCD adalah perusahaan bagus. Di hari berikutnya ketika harga saham ABCD tersebut ARA; dan bahkan terus saja ARA tujuh hari tujuh malam maka saya akan merasa bahwa tindakan membeli saham ABCD tersebut adalah benar.

Contoh lainnya adalah ketika ada banyak investor retail lain atau bahkan investor terkenal yang membeli saham yang sama dengan yang saya miliki, saya langsung berkesimpulan bahwa keputusan untuk membeli saham tersebut adalah benar.

Benar dalam Investasi

Nah, ini saya tidak tahu. Tapi yang jelas bahwa keputusan investasi memiliki kemungkinan besar benar jika kita telah melakukan riset sendiri dan konsisten dengan kesimpulan dari riset tersebut.

Dalam artian bahwa kesimpulan dari riset itu minimal terdapat hal semacam, “Jika A maka B.” Sebagai contoh “Jika saham ABCD berada di bawah harga Rp xxxx perlembar, maka saham ABCD undervalue.”

Atau bisa juga, “Jika saham ABCD bisa mempertahankan growth minimal sama dengan rata-rata sepuluh tahun kebelakang dengan deviasi normal, maka saham ABCD masih layak untuk hold.”