·  Sebuah jurnal investasi

Grusa-grusu

Sejak semalam (24 Juni 2021), saya terkena hype peluncuran Windows 11. Meskipun sudah sejak tahun kemarin mayoritas aktivitas yang terkait dengan komputer, semuanya sudah berpindah ke sistem operasi Linux, tapi tetap saja penasaran.

Singkat cerita, ketika usai mengunduh dan menjalankan aplikasi pendeteksi apakah laptop bisa diperbaharui ke Windows 11, hasilnya mengecewakan. Muncul notifikasi yang kalau saya terjemahkan bebas bilang: Laptop you kuno!

Dan saya tidak terima. Mungkin aplikasi pendeteksi ini tidak cukup pintar untuk mengenali spesifikasi laptop.

Akhirnya dengan segala daya upaya, saya cari artikel-artikel mengenai kemungkinan bahwa aplikasi pendeteksi itu tidak akurat; dan beberapa di antaranya memang menjelaskan demikian!

Yes, dugaan saya benar (meski bacanya juga sepintas lalu).

Dari satu artikel itu kemudian berpindah ke satu tutorial. Dari satu tutorial berpindah ke artikel lain. Dari artikel lain berpindah lagi ke tutorial yang lain lagi. Begitu seterusnya sejak kemarin malam hingga siang ini.

Semua instruksi instalasi ini-itu saya ikuti. Bahkan aplikasi bloatware dari pabrikan laptop dan Windows yang dulu saya anggap hanya gimmick pun saya pasang.

Pokoknya dobel klik, next, next, agree, next, next, yes, next, install. Kalau perlu reboot, langsung reboot!

Sampai akhirnya saya merasa sudah mulai lelah. Dan saat itulah saya baru tersadar bahwa sumber data utama yang harus dibaca adalah data spesifikasi di laman Microsoft.

Dengan berat hati—karena dokumentasi resmi selalu membosankan—saya baca laman dokumentasi secara hati-hati dari baris ke baris. Dan hanya butuh kurang dari semenit, langsung terpampang nyata bahwa prosesor di laptop saya tidak didukung oleh Windows 11.

Dang!

Bloatware-bloatware bodoh sudah terlanjur diinstal. Konfigurasi ini-itu sudah terlanjur diubah. Dan semua usaha sejak semalam harus diakhiri dengan mengembalikan seluruh konfigurasi ke setelan awal yang saya tahu aman dan nyaman.

Btw, mungkin tipikal SOP naluri seperti di atas itulah yang membuat saya (atau mungkin juga Anda?) sering salah atau hampir salah dalam membeli saham.